Yusuf “TILIK” Bessie (alm.), peringatan 100 hari

16 03 2006

Sudah lama kami merindukan senyumanmu sahabat… Tak lupa ketika kamu bersorak gembira bersama seluruh isi Pondok. Pancaran mata sahabat tercinta ini memberikan rasa aman, saat beliau menjabat menjadi Ketua Suku MAPASADHA. Tidak terlalu baik dan buruk yang kamu lakukan, namun bagi kami, sahabat telah mengisi buku harian Pondok MAPASADHA. Menorehkan semangat, catatan perjalanan, gelak tawa yang meledak, menangis bersama seisi Pondok MAPASADHA.


4 hari kedepan (20 Maret 2006) kami akan mengenangmu dalam peringatan 100 hari meninggalmu. Tidak ada lagi air mata yang tertumpah, sedih adalah masa lalu, kini yang ada hanyalah harapan hidup damai bagimu di sisi Bapa.
Sahabatku perjalananmu sungguh indah, hiasan hidupmu memberikan makna bagi kami yang masih diberi waktu bertobat di dunia ini. Jiwa menolongmu mengajak kami untuk meneladanimu sahabat.

Tilik (rambut warna pirang) saat evakuasi korban Tsunami Aceh Maret ‘05

Semangat tak mengenal putus asa-mu mengajari kami arti bertahan dalam hidup. Kami belajar dari detik demi detik, langkah demi langkah yang kamu jejakkan, memberi tanda bagi kami untuk selalu berusaha dalam hidup. Terima kasih sahabat…


Saat Tilik menjadi LONTA MAPASADHA tahun 2000 Shio Naga (Angkt XIX/ 521)

Suaramu yang keras tidak menunjukkan dendam dan murka…suaramu melantangkan persahabatan sejati… Tanda kasih yang terhingga darimu untuk kami….
Selamat jalan sahabatku… Hidup damai bersamamu di rumah Bapa… Amien





Sukmo “POLO” Widyantoro

16 03 2006


POLO begitulah cowok manis berbody pendek ini dipanggil oleh teman-temannya. Sering pula panggilan “THOLE” (panggilan untuk anak kecil dalam bahasa jawa) terdengar keras di telinga sehingga menggerakkan syaraf motorik lehernya untuk mencari sumber suara yang memanggilnya.
Beginilah posisi sehari-hari si Polo (nama suci di MAPASADHA) dalam bekerja. Sebagai seorang teknisi Wireless di sebuah perusahaan telekomunikasi ternama di Yogyakarta, dia termasuk pekerja yang rajin dan TOP abis (kata bos-nya). Bingung memang ketika kita sudah mengenal Polo sebelum bekerja, dia menyelesaikan studi di bidang Sastra Inggris, tapi saat ini si Polo bekerja ngurusi IT khususnya wireless…. Jauh ya…. tapi apa boleh buat…inilah yang namanya tuntutan hidup. Menggabungkan keahlian, hobi dan talenta. Oh ya, aku jadi ingat ketika dia masih aktif di kampus, cowok kecil ini punya hobi panjat memanjat. Olah raga penuh tantangan, Rock & Wall Climbing (panjat papan kata “Soel”, seseorang yg di-tua-kan di Pondok MAPASADHA). Jangan salah sangka, bodi kecil tak membuat Polo bertahan di kelas amatiran saja, dia terus melonjak ke kelas nasional untuk bidang “panjat papan” (Wall Climbing). Dengan tinggi kurang dari 154 cm, Polo lincah sekali meloncat dari point satu ke point yang lainnya dalam kompetisi “panjat papan”, bagaikan cicak kerdil bersayap.
Makanya, dalam bekerja, hobi dan prestasinya dia gunakan untuk mendukung mencari nafkah…. Smart juga bocah cilik ini….hehehehe
POLO bukan hanya ok di “panjat papan”, doi juga mahir dalam berbahasa inggris….hehehe (lha sekolahnya English-english student…masa gak mahir bahasa Inggris)…

Met berkarya kawanku…Sukses selalu ditanganmu…
Tuhan selalu bersamamu..

Dari sudut tebing G. Kelimutu,
G’penk van Piyik