Cairns, Up North Queensland, kota tourist yang indah dan sejuk

4 08 2008

Ternyata Cairns lebih indah dari bayanganku…. benar-benar asri, hijau dan hangat. Cairns cenderung lebih ramai dibanding Townsville, ya….mungkin disini kota tourist, kota wisata di wilayah utara di negara bagian Queensland ini. Orang Jepang sangat mudah ditemui di di kota ini. Mungkin orang Jepang menyukai kawasan ini, terlebih-lebih karena Cairns merupakan salah satu pintu masuk ke Great Barrier Reef yang terkenal itu. Dari Esplanade yang esotik dan romantis sampai The Reef Casino, menjadikan Cairns sebagai kota tujuan wisata. Kurang lebih 2000km di sebelah utara Brisbane, Cairns memiliki frekuensi penerbangan yang cukup tinggi, baik penerbangan domestik maupun international. Ok, marilah kita tenggok sedikit sudut pandang Cairns.

Esplanade

Cairns City

Sebenarnya aku pingin cerita banyak tapi nyusul aja ya tulisannya….hehehe… masih banyak tugas nih…. maklum mahasiswa baru…

Salam hangat dari North Queensland,

Y. S. “G’penk” Martyastiadi

Multimedia Game Development (M.InfTech)
School of Mathematics, Physics & Information Technology
James Cook University
Cairns, QLD 4870 Australia

Mobile: +61 432 052 447





Mengintip sudut-sudut kota Townsville, North Queensland, Australia

4 08 2008

Adalah Townsville, kota kecil 1730km disebelah utara ibukota negara bagian Queensland, Brisbane. Terletak di daerah sub tropis dengan rata-rata suhu 8 – 22 derajad disaat musim dingin.

The Strand adalah pantai yang menjadi ikon kota Townsville dan tak terlewatkan juga Flinders Mall serta “si gagah” the Castle Hill. Mungkin aku tidak perlu banyak bercerita, biarlah foto-foto dibawah ini yang bercerita kepada anda.

The Strand – Magnetic Island – Castle Hill

Townsville City

Townsville City dari sudut pandang The Castle Hill

Kampusku – James Cook University, Douglas Campus

Salam hangat dari North Queensland,

Y. S. “G’penk” Martyastiadi

Multimedia Game Development (M.InfTech)
School of Mathematics, Physics & Information Technology
James Cook University
Cairns, QLD 4870 Australia

Mobile: +61 432 052 447





Jogja – Denpasar dan Australia

4 08 2008

Mungkin kebahagiaan ini tidak bisa dikatakan dengan kata-kata ketika ku injakkan kakiku di Australia, yang terkenal dengan binatang kangguru. Di negeri kangguru ini aku harus berjuang untuk melawan diriku sendiri agar aku bisa disiplin dan tegas pada hatiku. Nafsu untuk selalu santai haruslah mulai dikelola, bak merajuk benang demi selembar kain tenunan. Karena, aku mendapatkan kesempatan belajar di negeri orang Aborigin. Peluang yang belum tentu bisa didapatkan semua orang. Mungkin aku adalah salah satu orang yang beruntung sehingga dapat belajar di Australia atas biaya pemerintah Australia (Australia Development Scholarship [ADS]). Dengan menyadang AusAID Student visa, aku bulatkan asa untuk pergi ke negeri seberang, benua yang kering, benua yang sungguh berbeda dari Indonesia.

Terlambat memang untuk menuliskan perasaan ini…..namun biarlah pengalaman ini bisa terwujud dalam goresan-goresan di lembaran wordpress ini.

29 Juni 2008, anakku (Cleo) menangis, tidak mau aku pergi. Dari pagi Cleo cemberut dan tidak mau lepas dari gendonganku. Siang harinya, Kakung Mulyadi, Uma (istriku tercinta) dan Cleo, menghantarkanku ke pool bis Safari Dharma Raya di sebelah selatan jembatan layang Janti.

Cleo cemberut dan tidak mau senyum ketika aku mau berangkat ke Denpasar

Jogja – Denpasar

Tepat 15.30 WIB, aku berangkat menuju Denpasar, Bali. Tidurpun tak nyaman selama diperjalanan, bayang-bayang wajah Cleo terlalu kuat dibenakku. Tak terasa air mata menetes, aku tidak tahu harus bagaimana, harus ku tinggalkan Cleo selama 2 tahun di Australia (selanjutnya disingkat “Oz“). “Semoga aku bisa pulang saat libur semester“, hiburku dalam hati. Siang itu, 30 Juni 2008, jam tanganku menunjukkan pukul 10.30 WIT, ketika bis tiba di terminal Ubung, Denpasar Bali. Bona sudah menungguku di pojok Terminal Ubung. Setelah 30 menit, tibalah kami di Jalam Pakerisan, dimana kantor pemasaran Kanisius cabang Denpasar berada. Memang sengaja, aku siapkan diri sehari di Denpasar sebelum berangkat ke Oz. Ya… perjalanan yang akan melelahkan menuju ke Townsville, North Queenland. Di kantor Kanisius aku bertemu kembali dengan Wayan, Bu Ketut dan Pepy (karyawan baru yang mirip dengan Pepy “Empat Mata”….hehehe). Si Juragan Dedy masih di Jogja dan baru akan berangkat ke Bali tgl 30 Juni 2008 sore hari. Siang itu juga kubereskan administrasi keberangkatanku di IALF Bali dan sisa waktu kugunakan untuk istirahat.

1 Juli 2008 pagi, aku terbangun dengan tenaga dan semangat yang baru, ya… ini demi perjalanan nanti malam. Siang itu aku kembali ke IALF Bali untuk bertemu dengan Bli Kadek dan Yovita, sekedar untuk ngobrol ngalor-ngidul. Sore harinya ku pergi ke Kuta untuk menukarkan uang rupiah (Rp) menjadi dolar Australia (AU$) sebagai uang saku di perjalanan. Malam telah tiba, kini saatnya ku persiapkan diri, mengecek kembali barang bawaanku.

21.30 WIT, Mas Gendon (calon Kepala cabang Elteha Bali….hehehe) telah datang ke kantor untuk mengantarkanku ke bandara Ngurah Rai. Setengah jam berikutnya, kami sudah melaju menuju arah selatan, dimana bandara Ngurah Rai berada. Setelah secuill kami ngobrol, akhirnya kuputuskan untuk segera masuk ke bandara untuk cek-in di kounter Qantas Airline. Ternyata tdak semulus yang aku bayangkan, sedikit ada masalah dengan bagasi dan visaku. Pertama, bagasiku terlalu banyak, kelebihan 4 kg, dan diminta membayar US$40. Namun setelah aku bernegosiasi, akhirnya aku dibebaskan dari biaya kelebihan bagasi, itupun karena aku berstatus student visa. Kedua, nomer passport yang tertulis di visa-ku ternyata berbeda dengan nomer passport yang kubawa. Setelah ku teliti, ternyata nomer passport yang tertera di visa-ku adalah nomer passport-ku yang lama. Akhirnya pihak manajemen Qantas menbantu untuk meng-update data visa-ku. Mereka menghubungi pihak Imigrasi Oz dinihari itu juga dan visa-ku ter-update. “Terima kasih Qantas“, itulah kata yang ku ucapkan kepada staf Qantas yang berwarga negara Korea.

Denpasar – Perth – Brisbane

Tepat pukul 01.00 WIT, aku tinggal landas menuju Perth (Oz bagian barat). Perjalanan kurang lebih memakan waktu 3,5 jam dan akhirnya pesawat kami mendarat pukul 04.35 (waktu Perth, tidak ada perbedaan waktu dengan WIT). Di Perth aku harus transit selama 8 jam dan untungnya aku sudah kontak Om Antonius Birowo (Dosen Komunikasi UAJY, mahasiswa Ph.D di Curtin University of Technology, Oz) sehingga aku dipersilahkan transit di rumah beliau di Perth. Setelah urusan custom selesai, aku menuju ke luar bandara dan di pintu keluar, Om Anton sudah menungguku. Akhirnya kami menuju rumah Om Anton dan aku bisa beristirahat cukup. Sekitar pukul 11.00 waktu Perth, aku diantar istrinya Om Anton menuju bandara Perth (Om Anton tidak bisa mengantarku karena beliau harus bertemu supervisor-nya). Ku ucapkan banyak terima kasih kepada keluarga Om Anton yang bersedia menampungku selama transit di Perth. Setelah urusan cek-in selesai, aku menuju waiting room yang modern banget…. sempat “gumun”/ terkagum-kagum…. (maklum orang desa….hehehehe). Setelah menunggu beberapa menit, aku masuk ke pesawat Qantas seri Boing 767-300/300ER (dan ini pengalaman pertama naik pesawat gede…hehehe) yang akan membawaku menuju Brisbane (Queensland). Perjalanan menuju Brisbane memakan waktu 4,5 jam dan akhirnya mendarat di Brisbane pukul 20.00 (ada perbedaan jam 2 jam antara Perth dan Brisbane), terlambat 1 jam dari jadwal yang seharusnya (18.50 waktu Brisbane).

Brisbane – Townsville

Dengan keterlambatan ini, aku harus berlari-lari menuju gate yang lain dimana pesawat menuju Townsville berada. Pukul 20.15, pesawat tinggal landas menuju Townsville yang berjarak 1750 km dari Brisbane dan akhirnya mendarat dengan selamat di Townsville pukul 22.30 (Eastern Australia Time). Di bandara Townsville Bung Yansen (mahasiswa Ph.D, Koordinator Sosial dan Humas PPIA-JCU) mewakili Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia – James Cook University untuk menjemputku dan mengantarkanku ke akomodasi yang telah disiapkan untuk ku di 161 Nathan Street, Cranbrook, Townsville. “Terima kasih PPIA-JCU, terima kasih Bung Yansen….

Townsville city

Akhirnya aku bisa beristirahat setelah menempuh perjalanan dari Denpasar 2 Juli 2008, pukul 00.00 WIT dan tiba di Townsville 2 Juli 2008 pukul 22.30 EAT. Wah capeknya bukan main…. ya ya….ini baru awal dari perjuangan….. masih ada 2 tahun kedepan aku harus berjuang demi cita-cita yang pernah aku jalin.

Terima kasih Tuhan atas berkat dan karuniamu sehingga saya selamat sampai Oz.

Salam hangat dari North Queensland,

Y. S. “G’penk” Martyastiadi

Multimedia Game Development (M.InfTech)
School of Mathematics, Physics & Information Technology
James Cook University
Cairns, QLD 4870 Australia

Mobile: +61 432 052 447





NangaBa dan NangaKeo, Ende NTT

26 03 2007

15 menit menyelusuri jalan negara di pinggiran pantai selatan Kabupaten Ende menuju arah Kabupaten Ngada, Si “Desi Bebek”, motor kesayangan kuhentikan…. ya…ya…. Tentu saja mataku tertuju pada sebuah frame yang akan indah bila diabadikan…

Adalah NangaKeo, sebuah tebing di pinggiran pantai yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Kira-kira 300 meter sebelum Pelabuhan Laut NangaKeo (sampai sekarang pelabuhan ini kok gak jadi-jadi ya???), tebing ini menjulang mengajakku untuk mengambil beberapa frame. Wah….sungguh tak terbayangkan….

Dengan bekal Olympus E500, kumulai menekan shuter beberapa kali….

nangakeo3.jpg

Sudut pandang NangaKeo

panorama-nangalala-2-edited-4.jpg

Panorama yang selalu membuatku kangen akan karya ciptaan-Mu…

nangaba-edited3.jpg

Deburan ombak saling menyapa menambah nuansa damai di NangaBa…

NangaBa adalah sebuah perkampungan muslim di sebelah barat kota Ende, kurang lebih 10 km jaraknya. Hampir semua penduduknya bermata-pencaharian sebagai nelayan.

Pemandangan seperti ini hanya bisa kita nikmati…. Biarkan mata kita sendiri yang mengartikannya…. Dan yang penting berusaha menjaga keasliannya…. itulah terbaik bagi alam ini…

Terima kasih Tuhan….

Engkau masih memberi kesempatan pada kami untuk menikmati keindahan ciptaanmu ini…..

Salam hangat dari kaki Gunung Kelimutu,

gpenk-edit-04.jpg

G’penk van Piyik





Berkunjung ke SDK Oka

28 09 2006

Sebut saja SDK Oka, sebuah sekolah dasar di kawasan kecamatan Wolowaru, Ende. Kira-kira 60Km ke arah tenggara dari kota Ende. Hari itu minggu, 30 Juli 2006, aku memang berencana bertemu dengan Bapak Yosef,
Kelapa SDK Oka untuk wawancara tentang kegiatan SDK Oka.
Dua jam lebih perjalanan kulalui dengan suasana yang menyenangkan, tentu saja berharap mendapatkan data-data untuk materi program radio yang selama ini aku produksi.
Jam tanganku sudah menunjukkan angka 10 lewat 15 menit dan mobil kantor
sudah memasuki jalan tanah yang penuh lubang.
Wah… awal perjalanan yang mengasikkan…hehehe.
Kurang dari 2 Km dari pusat kampung Oka, ternyata jalan putus gara-gara longsor….mmmmm….lagi-lagi jalan putus.

sdk-oka-1.jpg
Beberapa warga kampung memang sudah menunggu di jalan yang putus itu…..
ya…..tentu saja menunggu kami yang akan lewat.
Mobil otomatis gak bisa melanjutkan perjalanan kalau kondisi jalan begini. Setelah berbincang-bincang dengan warga, akhirnya kami ambil keputusan untuk gotong royong membuka jalan yang tersebut.

sdk-oka-2.jpg

sdk-oka-3.jpg

sdk-oka-4.jpg

Semua orang ikut ambil bagian untuk meratakan longsoran tanah……terpaksa kau juga…hehehehe….
Dan akhirnya setelah 1 jam bergelut dengan tanah, mobil kami bisa lewat kembali untuk malanjutkan ke kampung Oka.
sdk-oka-5.jpg
Beberapa menit kemudian kami suka sampai di kampung Oka…..
Dan di depan mata terlihat bangunan tua Sekolah Dasar Katholik Oka.

sdk-oka-6.jpg

Tampak kelas-kelas yang sudah mulai rusak termakan usia…
sdk-oka-7.jpg sdk-oka-8.jpg
Ruang kelas 5 SDK Oka
sdk-oka-11.jpg
Gawang jendela yang lapuk…


sdk-oka-10.jpg

sdk-oka-12.jpg
Wajah anggota komite sekolah
sdk-oka-9.jpg

Kapela kecil dari sudut kelas 6 SDK Oka….

Sampai disini dulu perjumpaan kita…..ketemu lagi di petualangan lain….

Salam hangat dari kaki Gunung Kelimutu, Flores


G’penk van Piyik