Met Ulang Tahun anakku

19 03 2006

Suara seruling dari sebuah radio kudengar sangat memekakkan telinga saat aku tiba di sebuah warung makan di terminal kecil kota kecamatan bernama Cicurug. Yah, 31 tahun yang lalu, waktu pertama kali aku menjejakkan kakiku di tanah Pasundan ini. Menjadi guru PNS adalah awal kebanggaan bagiku, walau jauh dari tanah kelahiranku di Yogya. Tidak tahu mengapa aku harus menjadi PNS di tanah orang, bukan di tumpah darahku sendiri, Yogyakarta. Tapi tak menjadi masalah bagiku, yang penting mendapatkan pekerjaan yang aku idam-idamkan, yaitu sebagai guru. Mimpi mungkin ketika aku melihat pengumuman penerimaan PNS, aku diterima sebagai guru. Tapi kenyataan berpihak padaku, aku jadi guru PNS. Dengan modal ilmu dari salah satu SPG di Yogya, aku bertekat untuk mengabdikan diri untuk pendidikan. Walau sayang bukan di Yogya.
Dua tahun kemudian, di awal tahun 1977 aku menikah dengan seorang mahasiswa ASRI (sekarang ISI), seorang seniman seni rupa dengan penjurusan Batik Dekoratif. Ku kenal pemuda ini sejak aku masih di Yogya, tentu saja karena suamiku ini adalah kawan bermain kakak kandungku. Mungkin aku tidak menyangka akan menikah dengan seorang seniman yang notabene tidak bisa diandalkan penghasilan tetapnya. Namun biarkan Tuhan berkata, aku jatuh pilihan dengan pemuda ini.
Beberapa bulan setelah menikah, aku merasakan keanehan yang belum pernah aku jumpai selama hidupku… Oh…ternyata aku hamil…aku hamil…. Pengalaman pertama dalam hidupku. Mungkin beda dengan perempuan kebanyakan yang sedang hamil, rasa nyaman dan aman selalu ada pada mereka. Mengapa aku tidak? Suamiku di Yogya selama aku hamil, dan bahkan sering ada di luar kota. Kadang kala dia harus pergi ke negeri orang untuk pameran hasil karyanya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, sesekali suamiku menengokku ke Cicurug, sebuah kecamatan kecil di kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Akhirnya 9 bulan berlalu, aku mengendong seorang bayi dalam kandunganku ke manapun aku pergi, mengajar ke sekolah yang jaraknya 25 km dari tempatku tinggal, di asrama stasi gereja Cicurug (sekarang Paroki Gereja Maria tak Bernoda, Cicurug). Beberapa hari lagi aku akan melahirkan, 1 bulan sebelumnya aku mengirimkan sebuah surat pada suamiku di Yogya, namun tidak ada kabar balasan juga dari Yogya menjelang aku akan bersalin. Sedih tapi tidak bisa menunggu. Akhirnya aku hanya bisa minta tolong teman yang sama-sama tinggal di asrama untuk mengantarku ke sebuah rumah bersalin kecil di desa Parung Kuda, beberapa kilometer dari Cicurug. Detak jam dinding membuatku gugup menghadapi pengalaman pertama melahirkan. Ya…pengalaman pertama…..sekali lagi pengalaman pertama. Akhirnya di hari Minggu, 19 Maret 1978, aku melahirkan seorang bayi laki-laki pukul 03.00 WIB tanpa dampingan suami. Gembira bercampur sedih… Kenapa?? Tentu saja, aku tidak sanggup menerimanya. Saat aku lihat bayi mungilku lahir dengan tidak sempurna, bibirnya sumbing. Aku hanya bisa menangis…menangis dan menangis…gak tahu sapa yang salah. Untung aku dikuatkan teman-temanku untuk menerima dengan iklas pemberian kasih dari Tuhan.
Hari berikutnya sesudah aku bersalin, suamiku datang dengan rasa menyesal tidak dapat menemaniku bersalin, karena dia baru saja pulang dari Jepang untuk pameran karya batiknya. Air mata menetes dari mata suamiku ketika melihat anakku dengan kondisi tidak sempurna, namun inilah karya Tuhan, karunia Allah yang harus kami terima dengan rendah hati apa adanya. Syukur pada Bapa telah memberikan kami momongan, seorang bayi laki-laki dari rahimku sendiri, seorang manusia kecil titipan Allah untuk kami rawat dan besarkan.
Tiada yang lebih besar dari kasih Tuhan pada kami berdua.

Selamat ulang tahun anakku, dewasalah dalam menjalani hidup. Doakan ibumu yang telah melahirkanmu yang kini tinggal di rumah Bapa yang damai. Bantulah Bapakmu untuk menemani adik-adikmu menjadi besar dan dewasa.
Doa Ibu untukmu selalu aku panjatkan tiap malam sebelum Ibumu ini tidur tenang di rumah Bapa di surga.

Salam hangat dari Ibumu di surga,

C. Kaswardrilah

Ditulis dari sebuah bisikan mendiang Ibunda tercinta di saat aku merenungkan pergulatan hidupku dari lahir sampai 28 tahun ini,

Ende, Flores 01.12 WITA, 19 Maret 2006
Terima kasih Tuhan, masih memberikan kesempatan bernafas bagi diriku yang hina ini.
Tulisan ini ku dedikasikan untuk mendiang Ibunda yang meninggal 24 Februari 2004 saat aku di Timor Leste, maafkan aku tidak bisa menemanimu saat Ibunda menghadapi maut. Selalu aku ingat perjuanganmu untuk pendidikan dasar yang layak bagi murid-muridmu, walau kanker telah menghantarmu menghadap Syang Khalik. Masih kuingat kata-katamu saat Ibunda sekarat di RS. Sarjito sebelum aku berangkat ke Timor Leste, “Le, aku isih kuat urip mungsuh kanker iki dudu sebab koe atowo adi-adimu opo meneh Bapakmu, nanging aku isih pingin urip sebab aku kelingan murid-muridku nang sekolahan” (Nak, aku masih kuat hidup melawan serangan kanker ini bukan karena kamu atau adik-adikmu apalagi Bapakmu, tapi aku masih ingin hidup karena aku ingat murid-muridku di sekolah).
Sebuah semangat hidup melawan maut demi kemajuan pendidikan.


Aksi

Information

2 responses

20 03 2006
t4mp4h

Selamat Ulang Tahun sahabatku, semoga perjalaanan waktu dan pengalaman hidupmu akan membuatmu makin “Besar”

“Stay on your Track”

t4mp4h

23 03 2006
simbah

wew…. trenyuh aku moco tulisan mu kuwi. memang berbakat nulis kowe dab. Ngaturaken Sugeng tanggap warso kemawon kagem mas g’penk van piyik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: